AKU TAK PERNAH PERGI
Haiku..!
Apa kabarmu seraut wajah dalam bungkusan kenangan?
Kini dunia berbeda, terdampar jauh terseret gelombang perasaan.
Aku masih mengikis pahatan demi pahatan pada bantalan kayu tua, untuk ku jadikan bahtera sekedar waspada, jika kau tersesat kelak di laut lepas.
Kau tahu?
Aku tak pernah menyisakan benih dendam sedikitpun untukmu,
Aku tak ingin karma itu membuatmu menangis, seperti yang pernah kau hempas aku pada lantai kesedihan.
Kau dan aku hanya seperti lembar-lembar senandika yang tak usai, karna kehabisan tinta di sisa opera.
Sementara pagi yang bercahaya telah menunggu di titik perak, dengan kemeriahan suguhan kemenangan, ternyata dunia yang kita huni masih gelap.
Kata-kata maaf itu? telah aku sematkan pada persimpuhan sebelumnya, namun hatimu terlanjur membatu, bagai tugu yang di ukir rumor kidung darah sekandung.
Tapi sudahlah!" aku bukanlah juara tunggal dari perdebatan, pada aula dinastimu, dan sebenarnya kau; tidak menyerah? sayembara kita kehabisan drama, dan telah berada di puncak rasa sabar.
Biarkan kata 'pernah; menjadi cerita bila nanti kau sempat menolak lupa, karena jujur? sederet kenangan itu belum berhasil aku hapus, entah itu tentang air matamu yang terpaksa tumpah, atau tentang senyumanku yang di rampas kekuasaan ego yang terjadi?
Yaa ita berhasil di kalahkan sebutir cobaan.
Ada satu hal yang harus kau tau!
"aku tak pernah pergi dari hidupmu, aku hanya berusaha memberi ruang untukmu, agar berkamuflase.
Biarkan senyumanku terus terbentuk, agar ke dua gerhana di mataku selalu berbinar di cermin do'a, menyaksikan seluruh kebahagianmu dengannya.
Karena aku tak pernah rela, jika kau menangis lagi, seperti saat kau terkurung pada miskinnya sangkar hatiku.
#ediary🍂
Komentar
Posting Komentar